KEMAMPUAN
HUMAN RELATION SEBAGAI MODAL DASAR KEBERHASIALAN DALAM KEHIDUPAN
Oleh:
nasaruddin STAIN Sorong
nasaruddin STAIN Sorong
Makalah ini disampaikan dalam acara diskusi sosiologi
Kamis, 31-8-2012
Kamis, 31-8-2012
Pendahuluan
Human relation secara harfiah
berarti komposit dari interaksi antar manusia, dalam segala aspek kehidupan.
Human relation ini biasa disebut juga dengan hubungan interpersonal. Kemampuan
dalam melakukan hubungan interpersonal ini sangat penting demi keberhasilan
individu di dalam semua lapangan kehidupan, baik dalam kehidupan personal atau
profesional seperti dalam dunia kerja. Khusunya dalam suatu organisasi atau
suatu instansi, tanpa kemampuan hubungan interpersonal yang baik, para manajer,
pejabat publik ataupun staf biasa, akan mengalami kegalalan, karena kesulitan
di dalam memberikan pelayanan yang optimal.
Sebuah penelitian terhadap responden
191 eksekutif puncak dari enam perusahaan yang mewakili 500 perusahaan besar
untuk menemukan jawaban terhadap kegagalan yang dihadapi para manajer. Dalam
penelitian tersebut ditemukan bahwa sebab paling besar kegalalan para manajer
adalah rendahnya kemampuan interpersonal. Dalam dunia kerja kemampuan
konseptual (conceptual skill) dan kemampuan teknis (technical skill) memang
menjadi persyaratan, tetapi masih belum cukup apabila tidak disertai dengan
human skill atau interpersonal competence yaitu kemampuan dalam melakukan
hubungan interpersonal.
Membicarakan hubungan interpersonal
ini, dalam kenyataannya merupakan sesuatu hal yang kompleks, sekompleks manusia
itu sendiri. Hal tersebut menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia yaitu
kepribadian, lingkungan fisik dan sosiokultural. Kepribadian, menyangkut
totalitas kondisi individu yaitu: kondisi fisik, dan kondisi psikologis
(karakter, tingkat intelektualitas, keyakinan, pengalaman dll). Aspek
lingkungan fisik, meliputi kondisi geografis, tempat tinggal dan tempat kerja
(fisik dan jarak), dsb. Aspek sosiokultural, meliputi rang-orang lain di
sekitar individu, termasuk norma-norma, agama dan budayanya.
Komunikasi
Komunikasi adalah cara dalam
mengadakan hubungan antar manusia (human relation), karena melalui komunikasi
antar pribadi kita dapat mengenal diri sendiri, mengenal orang lain,
mengungkapkan diri sendiri kepada orang lain dalam arti berinteraksi dengan
orang lain.
Komunikasi adalah tindakan dari satu
orang atau lebih, dengan mengirim dan menerima pesan, yang terjadi dalam
konteks tertentu. Di dalam komunikasi tadi terdapat kesempatan untuk melakukan
umpan balik yaitu saling mempengaruhi.
Melalui komunikasi antar pribadi
kita dapat membina, memelihara, kadang kala merusak atau memperbaiki hubungan
kita dengan kenalan baru, kawan lama, teman sepermainan, teman sejawat, atasan
atau bawahan, orang yang dikasihi anggota keluarga dan lainnya.
Tujuan Komunikasi
Komunikasi dilakukan dalam rangka
memberikan informasi tentang suatu hal dari pemberi (komunikator) kepada
penerima (komunikan). Ini dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap penerima
terhadap suatu program, merubah perilaku penerima, memberikan dukungan
psikologis, memberikan dukungan moral, memberikan terapi dan lain sebagainya.
Inti dari komunikasi adalah
bagaimana pesan yang dismpaikan dapat dipahami oleh komunikan (penerima pesan),
bukanlah sekedar substansi pesan seperti apa yang disampaikan oleh komunikator
(penyampai pesan). Demi tercapainya tujuan komunikasi, pesan yang disampaikan
oleh komunikator harus dapat ditangkap, dicerna, dan dipahami oleh komunikan.
Oleh karena itu materi pesan harus
jelas, dengan cara penyampaian yang baik. Penyampaian yang baik adalah pertama,
dengan bahasa yang mudah dipahami, dengan contoh-contoh kongret sesuai dengan
pengalaman, tingkat pendidikan dan tingkat intelektual komunikan. Kedua kapan
pesan itu disampaikan. Ketiga, di mana pesan itu di sampaikan. Keempat, kepada
siapa pesan itu disampaikan (kondisi biografis, psikologis dan sosiologis dari
komunikan).
Macam-Macam Komunikasi
Pertama, komunikasi intra pribadi
(komunikasi dengan diri sendiri). Dalam komunikasi ini individu melakukan
aktivitas psikologis (menalar, menganalisis, merenung, mengingat, berintuisi,
merasa, introspeksi, dan sebagainya). Informasi yang kita terima tidak akan
banyak manfaat, bila kita tidak mengolahnya lagi dengan mengajukan pertanyaan seperti:
what, when, where, why, how, what if and so what.
Kedua, komunikasi antar pribadi (dua
orang). Dalam komunikasi ini individu melakukan aktivitas saling mengenal,
berhubungan, menyampaikan informasi yang bersifat rahasia, membantu,
mempengaruhi, bermain, berkencan dsb.
Ketiga, komunikasi dalam sekelompok
kecil orang. Komunikasi ini dimaksudkan untuk berbagi informasi, memecahkan
masalah, mengembangkan gagasan, memberikan bantuan, dsb.
Keempat, komunikasi dalam kelompok
formal (organisasi). Komunikasi di sini dimaksudkan untuk memberi informasi,
mensosialisasikan program, memotivasi, meyakinkan, dsb.
Kelima, komunikasi publik (terbuka).
Dalam komunikasi ini seorang komunikan atau pembicara berbicara di hadapan
khalayak. Komunikasi ini dilakukan untuk memberi informasi, memepengaruhi,
memprovokasi, meyakinkan dan menghibur.
Keenam, komunikasi antar budaya.
Komunikasi ini dilakukan oleh orang yang berbeda budaya dengan tujuan untuk
saling mengenal budaya masing-masing, menambah pengetahuan, menjalin hubungan,
membantu, dsb.
Ketujuh, komunikasi masa. Komunikasi
ini diarahkan pada khalayak yang sangat luas, dengan sarana radio atau audio
visual. Ini bertjuan untuk memberi informasi, meyakinkan, memciptakan
persatuan, mengobarkan semangat kebangsaan, memprovokasi, menghibur dll.
Komunikasi Verbal
Perasaan dan pikiran seseorang
bisanya dikomukasikan melalui bahasa dalam hal ini bahasa verbal baik secara
lisan atau tulisan. Bahasa adalah suatu lambang atau simbol yang berupa
rangkaian bunyi berupa kata di mana masing-masing bunyi memiliki arti tertentu.
Misalnya “gunung, hutan, sungai, laut, dsb “ atau lambang bunyi ” Embah,
Marijan, Penjaga, Gunung, dan Merapi.” Dalam pergaulan sehari-hari baik antar
teman, antar anggota keluarga, sesama karyawan, atasan dan bawahan dalam suatu
instansi, dalam banyak tujuan dan kepentingan, tidak akan terlepas dari alat
komunikasi yang bernama bahasa ini. Bahasa ini hanya dimiliki oleh manusia.
Bersama dengan kemampuan nalar bahasa ini merupakan sumber keunikan dan
keunggulan dari manusia di banding dengan mahluk lain.
Di dunia kerja, kebanyakan karyawan
menggunakan 50% dari waktunya untuk mengadakan komunikasi dengan kata-kata.
Hanya yang perlu diperhatikan, bahwa banyak kata yang memiliki multi arti, di
samping adanya beberapa kata yang memiliki arti yang sama. Misalnya kata bulat
dalam kalimat: “bentuknya bulat, usulan disetujui dengan suara bulat,
keputusannya sudah bulat, dsb.” Dalam bahasa Ingris bulat (round), memiliki 110
arti yang berbeda. Banyak pula beberapa kata yang berbeda, dalam konteks
terentu, memiliki arti yang sama, misalnya kata mengandung, hamil, dan bunting.
Tetapi dalam konteks yang lain, kata mengandung tidak sama dengan hamil dan
bunting. Perlu juga diperhatikan bahwa ada kalanya maksud yang tersirat bertentangan
dengan yang tersurat. Misalnya dalam ego defence mechanism seperti:
rasionalisasi dan formasi reaksi.
Komonikasi Non Verbal
Melakukan komunikasi dengan bahasa
(verbal) ini, kadang-kadang masih belum cukup untuk memberikan informasi yang
akurat, karena di balik yang tersurat masih ada arti yang tersirat. Ini yang
sering menimbulkan miskomunikasi. Oleh karena itu di dalam komunikasi, perlu
diperhatikan ekspresi wajah, intonasi, nada dan irama suara, tempo dan
ritmenya. Ini yang dikenal dengan beberapa istilah yaitu gerakan bertujuan
(intention movement), bahasa tubuh (body language atau gesture ), yang disebut
pula dengan bahasa non verbal (non verbal language) atau bahasa tanpa kata
(language without words). Bahasa tubuh ini sering menjadi hambatan di samping
memperlancar dalam rangka berkomunikasi. Kemampuan menggunakan dan memahami
bahasa verbal dan bahasa non verbal dalam masing-masing konteks dan tujuannya,
akan berpengaruh pada keberhasilan komunikasi. Keberhasilan dalam komuniksi
ini, jelas sangat menentukan keberhasilan dalam melakukan hubungan
interpersonal, dan juga sebaliknya.
Kemampuan Adaptasi Individu
Inti dari hubungan interpersonal
adalah saling adaptasi antar individu. Kemampuan adaptasi ini merupakan
kemampuan manusia untuk dapat mempertahankan kehidupannya, bahkan spesiesnya.
Kemampuan adaptasi meliputi kemampuan akomudasi dan asimilasi. Dalam hal ini
antara individu dengan lingkungannya saling berinteraksi secara dyadic. Artinya
individu dalam interaksinya tidak hanya mempengaruhi orang lain, tetapi
sekaligus juga dipengaruhi. Ini terjadi sepanjang masa, dalam rentang
kehidupan.
Kegagalan seseorang dalam segala
aspek kehidupannya, banyak bersumber dari ketidak mampuan berasimilasi dan
akomodasi ini. Misalnya kegagalan dalam membina persahabatan, kegagalan dalam
membina kelanggengan berumah tangga, kegagalan dalam dunia kerja, kegagalan
untuk menjadi pemimpin dan anggota yang baik dalam suatu oraganisasi, dan
kegagalan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas anggota masyarakat tertentu.
Khususnya dalam dunia
organisasi/manajemen sebagaimana yang telah dikemukakan dalam uraian terdahulu,
bahwa kegagalan-kegalan manajemen sebagian besar ditentukan oleh kegagalan
dalam melakukan hubungan interpersonal. Ini berarti kegagalan tersebut disebabkan
oleh kurangnya kemampuan untuk saling adaptasi di antara masing-masing individu
dalam suatu organisasi. Kemampuan beradaptasi ini sangat ditentukan oleh faktor
individu itu sendiri seperti: usia, kematangan kepribadian, tingkat pendidikan,
tingkat intelektualitas, wawasan dan pengalaman.
Sebagaimana yang telah di singgung
di muka, kemampuan adaptasi merupakan inti dari kemampuan hubungan
interpersonal. Kemampuan untuk melakukan hubungan interpersonal ini, merupakan
indikator dari kemampuan seseorang di dalam human relation, di mana kemampuan
ini merupakan dasar bagi seseorang untuk dapat melaksanan segala aktivitas
dalam kehidupannya termasuk dalam rangka tugas layanan publik yang prima bagi
semua pihak yang berkepentingan.
Daftar Acuan:
Daftar Acuan:
Baron, R;A; & Byrene, 1991.
Social Psychology, Understanding Human Interction, 5th Edition, Boston.
Crano, W;D; & Messe, L;A; 1982.
Social Psychology, Principle and Themes of Interpersonal Behavior, Dorsey
Press, Homewood, Ilinois.
DeCenzo, D; & Silhanek, B; 2002.
Human Relation, Personal and Professional Development, 2th Edition, Prentice
Hall, New York.
Devis, K; & Nestrom, J;W; 1989.
Human Behavior at Work, Organizational Behavior, 8th. Edition, McGraw-Hill Book
Company, New York.
DeVito, J;A; 1997. Komunikasi Antar
Manusia, Edisi Kelima, Terjemahan:
Agus Maulana dan Lyndon Saputra, Penerbit: Professional Books,
Jakarta.
Agus Maulana dan Lyndon Saputra, Penerbit: Professional Books,
Jakarta.
Hodgetts, R; M; 2002. Modern Human
Relation at Work, 8th Edition, South-Western, Thomson Learning, Australia.
Robbins, S;P; 1996. Organisational Behavior,
Internatinal Editions, Prentice- Hall International, Inc, New Jersey (USA).